Rustam Effendi, Mundur Era Ahok, Kembali Jadi Pejabat Era Anies

0
59

Jakarta,beritapatroli.net

Rustam Effendi kembali menjadi sorotan. Ia dilantik Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi Kepala Biro Administrasi Sekretariat Daerah DKI Jakarta pada Rabu (10/1/2018).

Rustam kembali menduduki jabatan struktural setelah mengundurkan diri dari jabatan Wali Kota Jakarta Utara pada masa kepemimpinan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok) dan ditempatkan di Badan Pendidikan dan Pelatihan DKI Jakarta (Badiklat) sebagai staf.

Gubernur Anies menyampaikan, Rustam adalah sosok yang berprestasi. “Orang baik itu, sayang betul. Kerja serius, prestasinya baik, ya mudah-mudahan nanti beliau bisa mengabdi lebih baik,” ujar Anies seusai pelantikan di Balai Kota DKI Jakarta.

Pelantikan kemarin sebenarnya bukan kali pertama Rustam kembali muncul ke publik semenjak pengunduran dirinya di pemerintahan Ahok. Pada November 2017, Rustam muncul dan mendampingi Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno. Kala itu, ia diangkat menjadi staf khusus Sandiaga yang membantu menyelesaikan masalah pengaduan warga.

Tak tahu akan dilantik

Rustam mengaku tidak tahu akan dilantik menjadi Kepala Biro Administrasi oleh Anies. Rustam menyebut pelantikannya itu mendadak.

“Memang dadakan. Saya juga tidak tahu, tadi jam 11.00 dikasih tahu nanti ada pelantikan. Saya masih tenang-tenang saja, saya pikir mengisi kekosongan (jabatan) itu, kan, saya enggak tahu, rupanya saya juga bagian yang dilantik,” ujar Rustam, seperti dikutip Kompas.com.

Setelah menjabat Kepala Biro Administrasi, Rustam mengaku akan belajar kembali. Jabatan ini merupakan pekerjaan baru yang belum pernah dijalani. Meski begitu, ia siap menjalankan pekerjaan barunya.

Mundur bukan karena musuhi Ahok

Foto:Rustam Effendi dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Senin (6/11/2017).

Rustam mengundurkan diri dari jabatan Wali Kota Jakarta Utara pada April 2016. Rustam bercerita, saat itu ia mundur dari jabatannya bukan karena memusuhi Ahok.

“Saya tidak pernah memusuhi Ahok, lho, cuma saya enggak mau gabung dengan Ahok, begitu saja. Saya enggak pernah musuh sama Ahok,” kata Rustam.

Ia meminta semua pihak tidak berspekulasi dan menganggap dirinya bermusuhan dengan Ahok. Kini, Rustam kembali menduduki jabatan struktural. Ia menganggap pelantikannya menjadi kepala biro sebagai hal yang biasa. Setiap orang pasti mengalami naik turun jabatan.

“Kebetulan dikasih amanah lagi, itu biasa, kan. Dari dulu juga saya dari level paling bawah, pelan-pelan, terus ke eselon IV, eselon III, eselon II, sampai wali kota. Barangkali jalannya seperti itu, ya kembali lagi,” ucapnya.

Kisah Rustam dan Ahok

Foto:Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Wali Kota Jakarta Utara Rustam Effendi di Balai Kota, Jumat (22/4/2016).

Rustam pernah memimpin Jakarta Utara hingga April 2016. Rustam menjadi wali kota dan ikut menyukseskan sejumlah program Ahok ketika itu.

Penertiban di kawasan prostitusi Kalijodo tidak lepas dari peran Rustam. Namun, tak lama setelah itu Rustam mengundurkan diri dari jabatan.

Meski berhasil menertibkan Kalijodo, Ahok menilai kinerja Rustam tidak baik.

Semua bermula saat Ahok mengumpulkan pejabat satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dalam rapat penanggulangan banjir, 22 April 2016. Dalam rapat tersebut, Ahok mengemukakan ide agar saluran air dari Ancol diteruskan hingga Pintu Air Pasar Ikan, sehingga Ancol tak banjir lagi.

Namun, Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta mengaku sulit melakukan hal itu karena ada bottle neck atau penyempitan di kawasan Ancol.

Ahok pun menyebut kinerja Rustam lambat karena tidak juga menertibkan permukiman liar di kolong Tol Ancol.

Ahok menuding Rustam mendukung pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra yang saat itu merupakan bakal calon gubernur DKI Jakarta. Sebenarnya, ketika itu Ahok hanya bercanda.

Tak sampai di situ, dalam kesempatan berbeda, Ahok juga menyindir Rustam yang disebut sebagai anggota geng golf. Saat itu, Ahok menyebut ada keuntungan yang didapat para pegawai negeri sipil yang bergabung dengan geng golf ini. Anggota geng golf rata-rata naik jabatan lebih cepat.

Tudingan-tudingan Ahok berbekas di hati Rustam. Tidak butuh waktu lama bagi Rustam hingga akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya. Ia mengundurkan diri karena merasa berkinerja buruk dan tidak mampu memenuhi tuntutan Ahok.

Rustam sempat mengungkapkan kekecewaan di akun Facebook nya tentang model kepemimpinan Ahok. Ia tersinggung setelah disindir secara terbuka bersekongkol dengan Yusril.admin