Razia Satpol PP Dianggap Sia-Sia Oleh Dinsos

0
185

Madiun, Berita Patroli
Tak peduli dengan cibiran Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Madiun yang menganggap razia sia-sia, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Madiun jalan terus. Terbukti telah merazia pelajar di jenjang sekolah menengah atas (SMA) yang semula diduga bolos sekolah pada (21/2).

Razia kali ketiga itu membuahkan hasil. Sedikitnya terjaring 12 pelajar yang tengah asyik nongkrong di sebuah kafe belakang Polsek Mejayan. Pada aktivitas di jam pelajaran, persisnya pukul 09.00 itu, belasan pelajar yang terazia masih berseragam. ‘’Memang saat di Razia masih jam pelajaran. Tetapi karena habis UKK (Ujian Keterampilan Kejuruan) makanya pulang,’’ jelas Nur Hidayat, Wakasek Kesiswaan SMKN 1 Wonoasri saat mendampingi anak didiknya di Kantor Satpol PP Puspem Mejayan.

Selain menjaring, Satpol PP sempat menyita telepon genggam milik para pelajar. Dari 12 handphone yang disita, satu di antaranya didapati menyimpan video berkonten dewasa milik seorang pelajar SMKN 1 Mejayan. Siswa yang bersangkutan mengakui telah menyimpan video itu di ponsel pintarnya. Dia pun lantas mendapatkan pembinaan singkat dari petugas Satpol PP. ‘’Kami meminta masing-masing wali kelas di seluruh sekolah untuk rajin sidak (inspeksi mendadak) handphone siswanya. Kalau perlu, seminggu sekali,’’ .

Selanjutnya, siswa yang terjaring razia itu bakal diserahkan kepada bagian Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah setempat. Pihak orangtua siswa bakal dipanggil agar turut serta mengawasi siswa yang telah duduk di bangku kelas XII itu. ‘’Memang seharusnya jika sudah waktunya pulang, ya pulang. Tidak perlu mampir-mampir ke warung untuk nongkrong,’’.

Satpol PP, lanjut Setiyono, juga langsung menghapus konten video porno yang disimpan salah seorang siswa tersebut. Sebab, video tersebut bukanlah konsumsi bagi pelajar dan tidak semestinya disimpan. ‘’Ini anak-anak kita, generasi masa depan. Harus diselamatkanagar tak salah pergaulan. Apalagi yang diamankan kali ini sebentar lagi lulus,’’.

Satpol PP juga tidak menjatuhkan sanksi khusus lantaran itu merupakan kewenangan sepenuhnya pihak sekolah. Namun, seluruh pelajar yang terjaring tetap diminta membuat surat pernyataan agar tak mengulangi perbuatannya di kemudian hari. Meskipun para pelajar itu sebenarnya sudah bebas dari aktivitas KBM lantaran usai mengikuti UKK di sekolah setempat. ‘’Imbauan dari sekolah harus diperhatikan. Jika sudah waktunya pulang, ya harus pulang ke rumah. Jika ingin nongkrong, sebaiknya ganti baju dulu,’’. Aksi tegas Satpol PP Kabupaten Madiun mendapat acungan jempol dari Dinas Pendidikan Wilayah Madiun. Meski para pelajar baru saja mengikuti Ujian Keterampilan kejuruan (UKK), mereka tak seharusnya berada di kafe saat masih berlangsung KBM (kegiatan belajar-mengajar). ‘’Waktunya KBM kok malah kongko,’’ cetus Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Madiun Kresna Herlambang.

Kresna menilai, aktivitas ngopi yang kerap dilakukan pelajar cenderung berdampak negatif. Hal itu terbukti dengan ditemukannya video porno dari handphone salah seorang siswa. Video yang tidak seharusnya ditonton justru tersimpan dan dibawa sampai ke sekolah. ‘’Mereka mendapatkan input yang tidak tepat. Jika dibiarkan, kasihan generasi masa depan ini,’’.

Kresna menginstruksikan agar belasan siswa yang terjaring operasi kemarin mendapatkan pembinaan, bukan sanksi. Langkah tersebut dianggap tepat untuk menumbuhkembangkan karakter anak didik. Sehinggasiswa tidak lagi mengulangi kegiatan ngopi saat KBM berlangsung. ‘’Sifatnya mengingatkan. Karena dalam dunia pendidikan yang terpenting adalah pendidikan karakter,’’ tutur Kresna.

Penangkapan 12 siswa kemarinmenunjukkan bila karakter belum sepenuhnya terbentuk. Sehinggakondisi itu dapat mengancam dunia pendidikan sekaligus masa depa para generasi muda. ‘’Nah, ini juga menjadi tantangan bagi kita ke depan. Bagaimana mereka memperoleh pergaulan yang tepat sehingga tidak menjadi PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial),’’ Kresna.

Untuk membentuk karakter siswa, dibutuhkan kerjasama dari semua pihak. Tidak hanya dari Dinas Pendidikan Wilayah Madiun atau Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Madiun. Namun, juga melibatkan banyak satuan kerja (satker) seperti Satpol PP yang kemarin turut memelopori. Sebab, selama ini pihak sekolah kerap disudutkan jika terdapat siswa yang berperilaku menyimpang. ‘’Tidak bisa hanya diserahkan ke sekolah. Orangtua pun harus berperan aktif memberikan pengawasan,’’.

Agar siswa tak berkeliaran saat jam pelajaran, pihak sekolah juga harus aktif berkomunikasi dengan orang tua. Jugamengkroscek apakah siswa yang bersangkutan masuk sekolah atau tidak. ‘’Terkadang, saat orangtua dihubungi, pelajar pamitnya berangkat sekolah. Jadi, harus ada sinergi yang baik antara sekolah dan orangtua,’’. (pria)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

one × five =