Proyek Siluman Marak di Pacitan

0
172

Pacitan, Berita Patroli
Kelakuan kontraktor atau rekanan yang nakal rupanya masih ditemui dalam pelaksanaan pengerjaan proyek dipemerintahan, entah itu sekedar mencuri start ataupun penyimpangan pengadaan material untuk semata mata mencari keuntungan yang besar.

Media sebagai control sosial mempunyai peran yang sangat penting dalam ikut serta mengawal dan mengawasi pelaksanaan pembangunan dinegeri ini, terlebih lagi mengawal proyek pembangunan yang anggarannya bersumber dari Negara. Permainan kontraktor atau rekanan yang melakukan kecurangan ini  membuat ketua DPC PWRI (Persatuan Wartawan Republik Indonesia) Kab. Pacitan Wahyu Widi Sasongko Bersama LSM GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) melakukan sidak dan investigasi proyek siluman APBN yang terletak di Kec.Ngadirojo  Kab. Pacitan (tanggal 03 Mei 2017).

Proyek tersebut belum ada papan nama pekerjaan yang terpasang, dipekerjaan proyek  terindikasi tidak sesuai dengan spek pekerjaan, ada beberapa material yang tidak sesuai dengan ukuran sebagaimana mestinya. Proyek siluman tersebut di duga ada Mark Up Anggaran sehingga Negara mengalami kerugian sebesar Rp. 1.000.000.000,00 (Satu Milyard Rupiah). Dikonfirmasi lebih lanjut terkait proyek siluman tersebut ke kantor cabang pihak penyedia jasa, pimpro penyedia jasa tidak ada di tempat dan menghindar ketika mau dikonfirmasi tentang proyek- proyek siluman tersebut, diketahui dari papan nama pekerjaan yang tidak dipasang dan tergeletak di samping kantor cabang pelaksana.

Adapun nama pekerjaan tersebut adalah Pemeliharaan Berkala Tanggul/Tebing Kali Lorog, Kali Jelok, dan Kali Brungkah Lokasi Kabupaten Pacitan Jawa Timur, Proyek tersebut berasal dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Direktorat Sumber Daya Air Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo dengan nilai kontrak Rp.1.671.234.000,00 pagu dan HPS Rp.1.966.200.000,00 Tahun Anggaran 2017 dan dikerjakan oleh CV. Kartika Abadi yang beralamat JL. Brigjen Katamso V-C/3 Waru Sidoarjo  dengan konsultan supervisinya yaitu PT. Annaba yang beralamatkan di JL. Ngesrep barat III No. B6 Semarang.

Dari hasil pemantaun PWRI dan  GMBI dilapangan diduga kuat ada kecurangan dalam pelaksanaan pengerjaan proyek tersebut, ada beberapa bahan material yang ditemui tidak sesuai dengan spesifikasi  yang harusnya dipakai. Dan hal hal semacam ini jelas terlihat sebagai salah satu bentuk kecurangan yang diduga sengaja dilakukan untuk meraup keuntungan yang lebih dari pekerjaan ini. Penegak hukum diharapkan benar benar bisa melakukan tugas dan fungsinya dalam melakukan upaya penegakkan hukum di Indonesia secara transpran, dan tanpa tebang pilih. Apabila memang ada kerugian Negara dari suatu pelaksaan pengerjaan proyek pembangunan, sudah semestinya untuk menindak tegas sesuai aturan hukum yang berlaku. (*)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

1 × one =