Dinas LH DKI Monitor Pengelolaan Air Limbah di Sejumlah Gedung

0
157
Foto: Mudarisin, Kepala Bidang Pengawasan Dinas LH Provinsi DKI Jakarta.

Jakarta,beritapatroli.net

Kepala Bidang Pengawasan Dinas Lingkungan Hidup (LH) Provinsi DKI Jakarta, Mudarisin mengatakan, pihaknya terus memonitor dengan membuat grup WhatsApp (WA) tim terpadu untuk memantau pengelolaan air limbah, penyediaan sumur resapan dan pemanfaatan air tanah.

“Kami bersama anggota di lapangan terus monitor sejumlah gedung apakah punya instalasi pengolahan limbah (IPAL) akan tetapi terhubung dengan PD PAL JAYA, dan  atau tidak sesuai IPALnya,” kata Mudarisin kepada Berita Patroli dan beritapatroli.net, usai rapat di Balaikota, Kamis (22 Maret 2018.

Yang jelas, kata dia, ada lima tim yang menangani terkait Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 279 Tahun 2018 tentang penyediaan sumur resapan , instalasi pengelolaan air limbah dan pemanfaatan air tanah.“Besok (Jumat,23/3) Pak Kadis LH langsung yang akan mengikuti rapat Tim Terpadu yang dipimpin oleh Gubernur Anies Bawesdan,” ujarnya.

Seperti diketahui, sejak16-21 Maret lalu, Gubernur bersama jajarannya melakukan sidak memantau sejumlah gedung pencakar langit di Jl.MH Thamrin-Sudirman yang terindikasi melanggar aturan dalam membuat sumur resapan, instalasi pengelolaan air limbah dan pemanfataan air tanah.

Dari hasil sidak 40 gedung selama empat hari ditemukan sembilan gedung tidak memiliki sumur resapan. Sementara 31 gedung memiliki sumur resapan, tetapi ukurannya di bawah standard atau 3.500 meter kubik.

Selain itu, ditemukan  daftar gedung pencakar langit di MH Thamrin-Sudirman yang berlangganan untuk Pengelolaan Air Limbah (PAL) kepada perusaan air daerah baru 16 gedung. Setiap gedung harus memiliki paling sedikit empat sumur bor yang lengkap dengan Surat Izin Pengelolaan Air (SIPA). Mereka yang melanggar itu membuat berbagai alasan seperti kebutuhan, padahal keserakahan untuk mengicilkan ongkos meraup keuntungan besar.Sidak terus digencarkan pemprov setelah Gubernur Anies mencium adanya indikasi pemakaian air tanah secara berlebihan oleh gedung-gedung tersebut. Akibatnya, permukaan air tanah di Jakarta menurun.

Jakarta turun per tahun rata-rata tujuh sentimeter. Di pesisir turun bisa sampai 20 sentimeter. Langkah yang dilakukan sekarang ini memastikan lingkungan hidup di Jakarta terjaga dan kita menempati kota ini tanpa merusak lingkungannya. Sekaligus ini adalah untuk penegakan aturan hukum. tim

 

 

 

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

three × 2 =